Skip to main content

Man or Machine? Who's smarter?

Siapa yang menurutmu lebih pintar? Man or Machine?

//Mencoba mengevaluasi diri sendiri

Kita sekarang sedang berada di era digital di mana informasi bertebaran di mana-mana dan bisa kita dapatkan dengan cepat. Banyak juga yang menyebutnya era informasi. Siapa yang menguasai informasi ia yang menguasai dunia. Begitulah slogannya.

Berkembangnya mesin dalam kehidupan masa kini menandakan kemajuan teknologi katanya. Mesin dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai dengan perilaku manusia. Salah  satunya adalah machine learning. Suatu algoritma yang menjadikan mesin dapat mengenali sebuah pola tertentu dan di tahap/tingkat yang selanjutnya adalah memprediksi kejadian yang akan terjadi. Semua mesin ingin dibuat kognitif dengan niatan ingin memudahkan hidup manusia.

Contionus learning, deep learning, feature extraction, NLP yang patut dimiliki suatu sistem yang sudah mencapai tahap kognitif dijadikan fitur unggulan untuk mengolah suatu amount data yang besar dikenal dengan big data.

Terlepas dari semua itu mari berpikir sejenak. Sebenarnya siapa yang lebih pintar? Manusia-kah? Atau mesin dengan segala fiturnya? Bukannya mesin itu hanya mengerti 0 dan 1? Ya atau tidak? Lantas kenapa banyak sekali gagasan lain yang membuat seolah sistem yang ada di zaman sekarang itu smart system. Siapa yang lebih pintar? Manusia atau mesin.

Baiklah, harus saya akui bahwa manusia lebih pintar daripada mesin. Otak manusia diciptakan lebih kognitif dari sekedar processor yang dimiliki mesin. Mengapa demikian? Karena, nyatanya machine learning diadaptasi dari cara belajar manusia yaitu dengan memperoleh pengetahuan baru setiap saatnya. Nyatanya manusia ingin membuat mesin yang seperti manusia. Karena tipikalnya manusia mau untuk diajak memperoleh pengetahuan baru dan selalu penasran dengan suatu hal. Dan melalui tulisan ini saya tegaskan tidak ada manusia yang bodoh.

Mesin dengan machine learningnya bisa mengenali sesuatu dengan baik setelah diberi banyak data yang kemudian diproses dan dikenali pattern-nya. Manusia? jangan ditanya, manusia cukup sekali melihat bunga dan ditanamkan pada otaknya bahwa hal semacam itu adalah bunga dia bisa mengenali, bahwa yang seperti ini juga bunga, ini juga bunga dst. 

Lalu kenapa kita seolah kalah dengan mesin? Kalkulator dapat menghitung operasi matematis (yang rumit) lebih cepat dari kita, padahal ia hanya diprogram dan basisnya tetap dia hanya paham 0 dan 1. Lalu kenapa manusia tidak bisa secepat itu? Contoh lain, mungkin kita bisa untuk diajak mengurutkan 10 bilangan, atau mungkin 10 kartu bridge ditangan kita. Kita masih mau diajak mengurutkan 10 nilai UTS dari 10 siswa dari yang terbesar ke terkecil atau sebaliknya. Namun kita sudah enggan (meski bisa) jika disuruh mengurutkan 1000 data. Entah kapan selesainya. Sementara itu, mesin tetap mau. Dan bahkan kemampuan komputasinya sangat cepat.

Maka dari itu kawanku, sebenarnya kita mungkin selama ini salah membandingkan. Terlihat jelas ketika kita membandingkannya dengan mesin. Ketahuilah, manusia itu pintar dan mesin itu bodoh. Tapi lagi-lagi kenapa mesin seolah lebih pintar? Satu kata. Rajin. Mesin harus saya akui beribu-ribu kali lebih rajin ketimbang manusia. Dia mau dipaksa bekerja dengan jumlah data yang besar, rumit, bahkan mungkin dengan data yang baru ia kenali sebelumnya. Sifat rajin itu yang menjadikannya seolah-olah lebih pintar dari manusia. Padahal manusia yang menanamkan algoritma belajar pada mesin tersebut.

Bila kita modelkan masalah ini pada manusia maka akan terlihat jelas. Kita manusia semua diciptakan dengan potensi untuk menjadi pintar. Hanya tingkat kerajinan dan usaha kita dalam menggapai ilmu yang membedakan itu semua. Seolah orang lain lebih pintar, ketahuilah bahwa boleh jadi dia tidak lebih jenius darimu tetapi dia lebih rajin darimu. Ketahuilah, mungkin di waktu malamnya di tidak tidur untuk semua itu. Ketahuilah bahwa kau bukannya lebih bodoh/tidak lebih pintar darinya, tetapi mungkin kau kalah rajin dengan orang itu. Rajin membuat semuanya terlihat lebih pintar, padahal semua orang diciptakan sama-sama memiliki akal, tinggal manusia itu apakah mau berusaha untuk meng-update akal itu atau tidak? Jangan pernah bilang diri kita bodoh, boleh jadi kita hanya enggan untuk berusaha lebih keras.

Beberapa waktu yang lalu saat masih di bangku SMA saya mendengar salah satu ucapan mahasiswa ITB. Saking pentingnya rajin ketimbang kejeniusan dia mengatakan, "Di ITB mah yang pinter kalah sama yang rajin". Wow, bukankah itu suatu bukti? Sebenarnya seseorang terlihat pintar karena kemauannya untuk berpikir dan tingkat rajinnya, dan belum tentu karena jeniusnya.

Lihatlah kembali pada mesin. Maka kita akan mengerti. Ketahuilah kawanku, jikalau mesin punya Machine Learning, lalu dengan sifatnya dirancang agar menjadi Continuos Learning atau mungkin menjadi Deep Learning melalui banyak pattern recognition, maka ketahuilah bahwa manusia lebih hebat dari itu semua. Manusia memiliki Infinite Learning yang memadukan itu semua. Kita bisa, selagi kita mau berusaha.

Terakhir sebagai penutup. Ketahuilah kawan, bahwa yang memiliki ilmu itu adalah Allah. Allah yang memberi kita pengetahuan. Allah bisa saja suatu saat menanamkan atau bahkan mencabut ilmu dalam diri seseorang, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan ketahuilah, jika kalian ingin kalian dimudahkan dalam menuntut ilmu, sesungguhnya rumus kemudaham itu ada di Al-Quran, surat ke 2, ayat ke-282 di dekat penghujung ayatnya. Lihat penggalannya di sana. "Wattaqullaaha wa yu'allikumullaah(u)..."

Dengan terjemah (yang sesungguhnya Allah Mahatahu maknanya)
"Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu..."
"Tingkatkan taqwamu pada Allah, maka Allah akan ajarkan Anda pengetahuan"

Sebagai pengingat, bukankah para ilmuwan Islam dahulu banyak menemukan pengetahuan karena kedekatan mereka dengan Pemilik ilmu, yaitu Yang Maha Mengetahui? Tiap dari mereka bahkan hafal Al-Quran. Penelitian yang dilakukan oleh orang Barat membuktikan bahwa orang yang hafal Al-Quran meningkat 3x kecerdasannya.

Jadi kawanku sekalian, boleh jadi, selama ini kita bukannya kurang pintar, boleh jadi selama ini kita bukannya kurang usaha, tetapi mungkin karena kurangnya ketaqwaan kita kepada Allah. Ingatlah bahwa Allah yang akan menanamkan ilmu pada kita semua
. Wallahua'lam.

-Inspired by GO-Talks 30 Nov 2018, dan salah satu ustadz. Kalau Allah yang sudah berkata di Al-Quran dan Anda belum percaya, harus dengan cara apalagi agar bisa membuat Anda percaya dengan pertolongan Allah?

Comments